๐— ๐—ฒ๐˜€๐—ถ๐—ฎ๐—ต, ๐—ฆ๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—๐˜‚๐—ฟ๐˜‚ ๐—ฆ๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—บ๐—ฎ๐˜ ๐—”๐—ธ๐—ต๐—ถ๐—ฟ ๐—ญ๐—ฎ๐—บ๐—ฎ๐—ป

Wartautama.co – Kata “akhir zaman” selalu ditafsirkan orang dengan “zaman kehidupan ummat manusia” sampai pada hari kiamat, yaitu hari kehancuran alam dunia. Jika kita perhatikan pernyataan Yesus tentang “akhir zaman”, yang dimaksud bukan dalam makna yang demikian. Kata “zaman” menunjukkan pada sejarah peradaban suatu ummat atau bangsa. Suatu bangsa atau ummat pernah mengalami “kelahiran, kehidupan dan kematian”. Tidak ada suatu bangsa atau ummat yang bersifat abadi. Setiap bangsa atau ummat pasti mempunyai “ajal”, yaitu saat kepunahan atau kematiannya. Ini sudah merupakan kodrat atau ketetapan Hukum Allah.

Dalam tradisi agama Samawi, Nabi Isa dipercaya sebagai sosok “Juru Selamat” yang akan hadir menjelang akhir zaman nanti. Kehadiran sosok sang juru selamat di akhir zaman sesungguhnya telah menjadi tema pembahasan selama ribuan tahun dalam berbagai tradisi agama samawi.

Di Israel kuno, juru selamat disebut “Masiah” (Mashiyach), umumnya dieja dalam bahasa Inggris Mesias, dalam kata Ibrani yang berarti “yang diurapi,” merupakan asal kata “Mesianisme,” konsep ini dapat ditafsirkan untuk mencakup tradisi eskatologis dari berbagai agama yang didefinisikan oleh pemikir modern sebagai jenis pemikiran dan gerakan yang percaya bahwa sang juru selamat akan datang pada akhir dunia ini, menghilangkan penindas dan menciptakan masyarakat yang ideal.

Klik link ini :ย https://youtu.be/yhmcHySiM5E

๐ˆ๐ฆ๐š๐ฆ ๐Œ๐š๐ก๐๐ข
Dalam tradisi Islam, informasi tentang kehadiran Imam Mahdi di akhir zaman nanti umumnya diperoleh dari Hadist.

Tidak ada referensi langsung tentang Imam Mahdi dalam Al-Quran. Namun demikian, beberapa dari hadist tersebut, oleh beberapa kalangan dianggap ada yang lemah sehingga tidak layak untuk menjadi rujukan.

Dalam tradisi Islam, diyakini bahwa Imam Mahdi akan datang ke dunia ini sebagai juru selamat di akhir zaman. Kata Mahdi berasal dari bahasa Arab yang berarti “yang dibimbing dengan benar”, atau “yang mendapat wahyu”.

Mahdisme adalah salah satu pemikiran seperti itu yang muncul dalam konteks Islam, dan itu memberikan dasar doktrinal untuk reformasi sosial yang dirancang untuk membebaskan orang-orang yang tertindas dari penderitaan mereka.

๐’๐š๐ญ๐ซ๐ข๐จ ๐๐ข๐ง๐ข๐ง๐ ๐ข๐ญ
Satrio Piningit atau Ratu Adil adalah sosok yang diramalkan akan menyelamatkan masa depan bangsa Nusantara. Dalam khasanah budaya Jawa, sosok Satrio Piningit dipercaya sebagai figur manusia yang berdiri tegak melawan arus. Ia berusaha mengembalikan tatanan kebaikan di Bumi Nusantara ini.

Satrio Piningit akan muncul jika kondisi Nusantara tengah mengalami kemerosotan diberbagai sendi kehidupan. Dari nama yang disandangnya, Piningit dari bahasa Jawa Pingit yang berarti masih tersembunyi, atau belum saatnya muncul jika waktunya tiba. Satrio Piningit juga merupakan sosok bijaksana yang bakal membawa bangsa Nusantara keluar dari “zaman kegelapan menuju zaman keemasan” yang penuh dengan kebaikan harmoni, dan keberlimpahan.

Baca Juga:ย https://wartautama.co/2020/01/17/kisah-pemimpin-milah-abraham-sang-mesias-juru-selamat/

๐“๐š๐ง๐๐š-๐ญ๐š๐ง๐๐š ๐š๐ค๐ก๐ข๐ซ ๐ณ๐š๐ฆ๐š๐ง
Mengenai tanda-tanda akhir zaman, sebagai saat di mana “Sang Juru Selamat” hadir, hampir semua tradisi agama memiliki catatan tentang hal tersebut.

Namun secara umum, kesemua tanda-tanda itu dapat dikategorikan dalam lima hal utama yaitu:
(1). Bencana alam,
(2). Menjangkitnya wabah penyakit,
(3). Fenomena aneh,
(4). Perang, kerusuhan, gangguan sosial politik, dan
(5). Meningkatnya kesalahan perilaku manusia.

Ummat kehilangan harapan
frasa “Juru Selamat ” umumnya hadir dan populer menghiasi alam pikiran suatu kaum atau bangsa manakala mengalami ketertindasan dan kesengsaraan hidup yang nyaris tidak mampu lagi mereka atasi, atau temukan jalan keluarnya.

Sebagai gambaran, sejarah mencatat bahwa di masa lalu, kota-kota yang taklukkan oleh suatu invasi dari imperium bangsa besar (Romawi dan Persia) misalnya, akan menyebabkan masyarakat yang tinggal di kota tersebut mengalami penindasan secara fisik maupun mental.

Mereka kehilangan harapan untuk dapat melawan balik dikarenakan kekuatan militer kotanya telah dihancurkan, kehilangan kemampuan bertahan hidup dikarenakan pangan mereka habis dijarah, dan kehilangan kehormatan akibat mendapatkan berbagai macam bentuk pelecehan.

Di titik seperti inilah saya pikir, harapan tentang sosok “Sang Juru Selamat” hadir menghiasi mimpi orang-orang tertindas dan teraniaya, di masa manapun itu.

Sebagai penanda suatu kemungkinan bahwa sebagian masyarakat yang ditindas telah mulai tiba pada titik rasa “kehilangan harapan”? Sebagian lagi mungkin menganggap itu sebagai gambaran rasa frustrasi terhadap kondisi sosial politik.

Sementara itu, orang yang cukup menggeluti bidang kesejarahan akan melihat hal tersebut sebagai fenomena yang telah berulang kali hadir di panggung sejarah umat manusia.

Kesengsaraan yang senantiasa meliputi kehidupan manusia di setiap bangsa dari masa ke masa, menginspirasi hadirnya “Juru Selamat”, bahwa kehadiran nya tersebut akan dapat menghilangkan penindasan atau apa pun yang menimbulkan kesengsaraan dalam kehidupan umat manusia.

๐Š๐ž๐ฌ๐ข๐ฆ๐ฉ๐ฎ๐ฅ๐š๐ง
Terlepas dari semua hal yang telah diuraikan di atas, saya pikir adalah hal yang menarik untuk mereka-reka seperti apa strategi “Sang Juru Selamat” memainkan perannya di panggung akhir zaman.

Karena kita ketahui, ada kalanya kenyataan tidak sesimpel sebagaimana yang dinarasikan atau dideskripsikan sebelumnya.

Pemahaman ini setidaknya akan membuat kita lebih realistis dalam menimbang segala hal yang terkait pembahasan tema eskatologi, dan pada gilirannya dapat membuat kita atau pun generasi-generasi selanjutnya dapat lebih siap menghadapi dinamika akhir zaman.

Kesimpulannya, semua tokoh-tokoh diatas tersebut tentu saja sama secara personifikasi, mengemban tugas yang sama yaitu untuk memperbaiki dunia kelak pada masa akhir zaman yang penuh dengan keburukan.

Hari ini, kita mendapati kenyataan bahwa pemikiran dunia modern cenderung mengasimilasi tradisi Mesiah dengan Imam Mahdi dan Satrio Piningit. Dapat dikatakan bahwa kita sebagai generasi yang hidup di masa modern, setidaknya nama-nama itulah yang memang kita warisi sebagai ingatan dari masa lalu, tentang akan hadirnya tokoh suci, penerus para nabi/Rasul sebelumnya, yang akan memulai era yang sepenuhnya baru di masa mendatang.

Intinya, akhir zaman adalah momentum pengungkapan dan pelurusan berbagai hal, yang secara esensi dapat dipahami sebagai โ€œsaat di mana kebenaran ditegakkanโ€. Ini setidaknya sejalan dengan makna dari etimologi kata โ€˜kiamatโ€™ yang berasal dari bahasa Arab โ€˜qiamaโ€™ yang berarti: bangkit / tegak. (FB)

Banjarmasin, Senin 090522

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Stay Connected
16,985FansSuka
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan
BERITA TERKAIT
- Advertisement -spot_imgspot_img
- Advertisement -spot_img
BERITA TERBARU
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here